Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

Yang lalu (berlalu)

Gambar
Boleh jadi awal pekan adalah satu hal yang kau benci, atau barangkali Selasanya saja, sebab jatah piketmu jatuh pada hari itu. Sementara, awal pekan buatku selalu akrab dengan keheningan. Solo shift , begitu aku menyebutnya. Terlebih lagi tatkala orderan-orderan ribet muncul dari customer yang rewel menginginkan compliment. Lebih parah lagi saat berjam-jam tak kunjung ada orang mampir. Suasana macam itu selalu lekat dengan lamunan, kalibrasi yang tadi terasa amat sia-sia. Waste melulu segitu saja, malah spoil yang justru selalu menuntut dipertanggungjawabkan secara lisan saat pengecekan. Kuputuskan saja mengambil jatah break pukul tiga, lebih awal dari biasanya. Kuseduh kopi sisa yang ada dengan dripper ala Vietnam, kuseruput dalam keadaan dingin. Sebatang tenor terbakar cepat-cepat oleh api kecil, secepat balasan pesanmu di Direct message. Barangkali sore itu masih teramat terik untukmu yang bakal menggerutu. Meneduhlah sebentar saja di situ, di bawah atap cor gedung pusat perbe...

Berjumpa di kala purnama

Ada tiga hal yang terjadi saat hari libur pekan ini: melewatkan subuh, lelap dalam tidur seharian dan bangun kesorean. Pukul tiga sore baru benar-benar bangun musabab dibangunkan oleh bapak. Aku masih ingat perihal mimpi yang mampir dalam tidurku tadi. Aku bermimpi dua kali, tentang Akbar yang pulang dari tanah rantau dan berkunjung ke rumah, hingga Pak Rahardjo yang mengajak berbincang santai dan memberi uang. Perihal kedua mimpi tadi tidak begitu kuresapi, walaupun tak pernah kupikirkan kedua orang yang mampir di mimpiku kali itu. Pukul 16.00 selepas asar timbul keinginanku untuk berkunjung ke rumah Jator, seorang kawan yang jarang kujumpai akhir-akhir ini. Kuhubungi ia via WhatsApp, kupastikan ia sudah berada di rumah dan tidak keberatan kusambangi. Di sore yang cerah sepeda motorku melaju ke arah matahari terbenam, memang sering kali menyilaukan. Buruh-buruh pabrik lepas kerja berjubel di sepanjang jalan, deru mesin kendaraan terdengar riuh, berisik klakson-klakson bersahutan ...

Sudah

Perempatan Ngapeman memisahkanku dengan Ronald dan Dohan di pertemuan. Ia belok kanan memasuki jalan Slamet Riyadi menuju arah barat, sementara aku melanjutkan menyusuri jalan Honggowongso ke selatan. Udara malam itu tidak terlalu dingin macam hari lalu, mataku sudah agak mengantuk, kurogoh saku jaketku dan mengambil ponsel untuk melihat jam. Dan kuputuskan untuk menepi sebelum berhenti di lampu merah pasar kembang. Kucopot helm dan kukenakan headset , sembari membuka laman Spotify untuk memutar lagu. Tanpa memilih-milih lagu apa yang hendak kudengarkan untuk menemani perjalanan menuju pulang, kuputar secara acak saja. Dan lagu Ardhito Pramono yang berjudul Sudah yang berputar dan kudengarkan. Alunan musik pelan membikin perjalananku ikut tenang. Kupacu sepeda motorku lebih lambat, sembari menikmati perjalanan di tengah malam yang sunyi, dengan diiringi lagu Sudah yang membikin suasana lebih intim. Dan barangkali Sudah adalah kredo paling pelik. Sudah seolah oase di tengah gurun...

Yang telah pergi akan selalu terkenang

Om. Kalau saja aku boleh bercerita padamu, begini ceritanya: Pada suatu malam yang amat penat selepas kerja, aku bergegas menuju rumah Ronald. Sesampainya di sana, ia menyambutku di depan gerbang, dan segera kuparkirkan sepeda motorku di teras rumahnya. Setelah berbincang pendek hendak makan malam di mana, disepakatilah satu tempat, dan dengan segera kami melaju menuju burjo belakang kampus malam itu. Kami sama-sama lapar, sesampainya di burjo kami segera memesan makanan. Ronald memesan omlet kesukaannya, sementara aku memesan magelangan macam biasanya. Beberapa menit berselang setelah makanan sudah habis disantap, datanglah seorang kawan, ia adalah anak Campus Bois , tapi aku malah belum sempat berkenalan dengannya. Kami bertiga berbincang santai perihal pertandingan tandang beberapa waktu lalu di Kediri. Di tengah-tengah obrolan, ponselku berdering berulang kali, ada panggilan masuk dari istrimu, tanteku sendiri. Tanpa mengucap salam terlebih dahulu, kudengar suaranya terbata...