Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Sepak bola dan pertemanan

Hari itu lebih kemrungsung macam hari biasanya. Jam pun berjalan lebih cepat rasanya. Dwiky mengajakku mengantarkan pesanan kaos yang diorder seorang kawan katanya. Kami bergegas menuju ke tempat yang sudah disepakati, di angkringan depan RS Kustati, Solo. Aku dan Dwiky datang lebih dulu daripada kawannya yang memesan kaos. Kami memesan dua gelas teh dan berbincang-bincang santai macam biasanya. Kacang rebus, tempe mendoan, dan rokok ketengan menjadi kawan yang lain antara kami.  Jalanan kota teramat ramai malam itu. Lampu-lampu yang remang cukup menyinari temaram jalan. Knalpot berisik tentu menjadi santapan empuk yang selalu diarak umpatan setelahnya.  Beberapa menit berselang, seorang pemesan kaos itu tiba. Dwiky menjabat tangannya dan memperkenalkannya padaku. Aku menyodorkan tangan hendak menjabat.  "Ronald, mas" ucapnya sambil menjulurkan tangan. Aku juga memperkenalkan namaku dan memberi senyum ramah.  Dengan tracktop  Adidas dan celana Jeans, Ronald dud...

Obrolan pagi dengan bapak

Pagi tiba lebih awal buatku yang tidak tidur semalam. Menyeduh teh, ditemani cemilan-cemilan seadanya, dan gudang garam sisa semalam yang masih beberapa batang. Obrolan dengan bapak pagi itu lebih intim musabab jarang sekali kami berbincang, sebab sama-sama sibuk juga. Beruntung, masih bisa ngobrol macam ini, dan bersyukur ia masih tetap sehat di usianya yang sudah kepala lima.  Kami berbincang banyak hal pagi itu, tentang desas-desus warga sebelah, perihal kawan-kawanku semasa sekolah, kawan yang kutemui dewasa ini, hingga perempuan mana yang sedang dekat denganku sekarang.  Semacam diskusi, atau sebuah interogasi. Aku sendiri sudah terbiasa berbicara apa adanya, tentang apa saja dengan bapakku.  Sesekali ia mengajakku membahas tentang sepak bola. "Ngga nonton, Mas?" "Tadi menang, lho, Mas" "Mainnya jelek tadi, Mas" Tentu kalimat-kalimat itu akrab kudengar akhir-akhir ini.  Aku tahu, bapak sudah berubah, ia yang dulu selalu melarang ku menonton sepak bola...

Satu hari, ku ceritakan tentang kau

Hari ini, aku menulis dua kali. Yang pertama, aku menulis tentang kekasihku, Anna, yang akhir-akhir ini gusar kepadaku. Ia gusar tanpa sebab, aku tak tahu. Dan tentu tulisan tentangnya belum hendak ku tulis ulang di sini, baru di buku tulis pemberiannya. Yang kedua, aku menulis tentang ini; Ajakan nongkrong datang dari Aziz, kawanku anak Ultras. Sebelumnya, ia mengajakku menikmati sore di depan stadion Sriwedari. Tapi batal, sebab aku ketiduran sore tadi. Tepat pukul 21.30 ia datang menjemput ku di rumah. Kami segera bergegas, tanpa berpikir lama hendak nongkrong di mana malam itu, dipilihlah Keraton Kasunanan. Kami melewati malam dengan duduk santai tepat di depannya.  Kami memesan dua gelas kopi hitam gelas kecil, dan obrolan pun dimulai begitu saja. Barangkali obrolan kami berdua tak pernah berubah, sepak bola tentu menjadi pembahasan yang utama. Perihal skor akhir pertandingan beberapa waktu lalu, hingga menyorot ke arah tribune penonton, tentang kawan-kawan yang sedang semanga...

Berkunjung

Hari masih terlampau pagi buatku yang selalu bangun siang. Ponselku berdering berkali-kali, tentu itu sangat mengganggu tidurku yang sedang lelap-lelapnya. Aku terpaksa bangun saat dering yang ke sekian kalinya. Tak diduga, panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali dari Anna. Mataku terbelalak, dan segera menghubunginya. Dengan terbata-bata aku bicara lewat telepon. "Ada apa, Ann? " tanyaku lirih.  "Kamu baru bangun, ya?" ia bertanya balik "Hari ini ada acara ngga? " "Belum ada sih" "Bisa ku ajak? " "Ke mana, Ann? " "Aku mau belanja, bisakah kau temani aku? ". Tanpa berpikir panjang, ku iyakan saja ajakan itu.  Aku segera beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Ku kenakan sepatu baruku dan berdandan apa adanya. Ponsel ku berdering lagi, Anna kembali menelepon.  "Kamu ku jemput saja, ya" "Oke, Ann. Ku kirimi alamat rumahku" "Oke. Aku menuju ke sana" ucapnya mengakhiri panggilan.  ...

Sekali lagi, inilah cinta

Di satu hari yang begitu penat, aku datang ke rumah kawanku, Alexander. Ia sudah lama tak ku jumpai barangkali di tongkrongan, atau di gereja akhir pekan pada umumnya. Ia kaget saat aku datang sebab sebelumnya aku tak memberi kabar jika hendak berkunjung.  Hari itu ia sedang duduk santai di teras rumahnya sembari menikmati rokok dan kopi. Pertemuan kami akrab dengan senyum dan tawa tanpa sekat basa-basi.  "Hei, dari mana, kok tiba-tiba datang? " ucap Alexander kepadaku sambil menepuk pundak.  "Dari rumah, ingin berkunjung ke sini saja, lama kita tak bersuara" jawabku sambil menjabat tangan.  "Sehat, kan? " tanyaku.  "Puji Tuhan, sehat". "Kamu mau minum apa?, teh atau kopi? ". " Seadanya aja, lex" jawabku sambil segera duduk di sampingnya.  Ia masuk ke dalam rumah dan segera menyeduh kopi hitam untukku. Sementara aku duduk santai sambil menikmati indahnya malam dengan padi yang sudah menguning siap panen yang berada di sawah de...