Sepak bola dan pertemanan
Hari itu lebih kemrungsung macam hari biasanya. Jam pun berjalan lebih cepat rasanya. Dwiky mengajakku mengantarkan pesanan kaos yang diorder seorang kawan katanya. Kami bergegas menuju ke tempat yang sudah disepakati, di angkringan depan RS Kustati, Solo. Aku dan Dwiky datang lebih dulu daripada kawannya yang memesan kaos. Kami memesan dua gelas teh dan berbincang-bincang santai macam biasanya. Kacang rebus, tempe mendoan, dan rokok ketengan menjadi kawan yang lain antara kami. Jalanan kota teramat ramai malam itu. Lampu-lampu yang remang cukup menyinari temaram jalan. Knalpot berisik tentu menjadi santapan empuk yang selalu diarak umpatan setelahnya. Beberapa menit berselang, seorang pemesan kaos itu tiba. Dwiky menjabat tangannya dan memperkenalkannya padaku. Aku menyodorkan tangan hendak menjabat. "Ronald, mas" ucapnya sambil menjulurkan tangan. Aku juga memperkenalkan namaku dan memberi senyum ramah. Dengan tracktop Adidas dan celana Jeans, Ronald dud...