Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Celengan rindu, dan doa kita saban hari

Sore sedang cerah-cerahnya di kota Solo. Perjalanan ke arah barat tentu terasa agak terik, sebab mentari belum juga pulang, ia baru perjalanan menuju pulang. Silau, tentu saja. Beruntung ada kacamata hitam di dashboard , yang bisa kuambil dan kupakai. Dagumu bersandar di pundakku macam biasanya, tiap kali kuboncengkan kau selalu begitu, tak pernah berubah, dan kuharap jangan berubah. Melulu lah seperti itu. Dan jangan bosan. “Kamu tahu lagunya Fiersa Besari ?” Tanyamu tiba-tiba dari jok belakang. “Lagunya yang mana ? Judulnya ?” Tanyaku balik. “Yang liriknya begini; aku kesal dengan jarak” “Yang sering memisahkan kita, hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di WhatsApp”. “Celengan rindu” ucapku sambil melanjutkan sepenggal lirik tadi. “Nah iya itu. Celengan rindu, ya”. Kita terus-terusan saling melanjutkan lirik demi lirik lagu tersebut. Dan kuraih tanganmu saat sampai di lirik ingin kuberdiri di sebelahmu, menggenggam erat jari-jarimu. Sambil kupandangi wajahmu dari spion seb...

Dari Swargi

Kamu datang lebih cepat hari itu. Aku justru menyusul beberapa waktu kemudian. Aku tahu, kamu agak bosan musabab menunggu lama. Kulihat kamu sudah duduk sambil menatap layar laptop, dan belum memesan apa pun. Kita memesan bareng, berjejer mengantre. Kamu tidak memesan americano ice macam biasanya, sebab puasa katamu, takut asam lambungmu naik. Kita sama-sama baru pertama kali mampir di kedai ini, tampaknya kamu begitu takjub, dengan suasananya, dengan pelayanannya dan dengan menu-menunya. Kamu bilang kalau mood mu membaik setelah itu. Menjadi hal baru bagimu tatkala menginjakkan kaki di sana untuk yang pertama kali. Kita berbincang banyak hal malam itu. Sesekali kau selesaikan pekerjaanmu yang belum kelar, barangkali sekedar mengoreksi tugas-tugas siswamu, sesekali kubantu walau sekedar. Sesekali juga kamu mengeluh perihal pekerjaan, kau yang mulai bosan atau bahkan muak dengan pekerjaanmu, dan ingin mencoba hal baru. Namun selalu kuakhiri dengan kata jangan. Maaf jika terlalu mengguru...

Satu cup kopi, dan dinginnya malam

Hawa dinginnya malam selepas hujan tentu menenangkan buatku setelah melewati sehari yang sibuk. Dan di malam yang dingin itu kumulai menulis lagi tentangmu. Yang rupanya sudah lelap dalam mimpi, yang kuharap selalu indah itu. Bagaimana nasib satu cup kopi tadi ?. Apakah sudah habis kau minum ?. Atau masih sisa ?. Atau jangan-jangan malah tumpah. Entah. Mulai kubuka bok yang kau berikan padaku beberapa hari lalu, kubuka perlahan dan penuh hati-hati. Mulai kuambil satu-satu, ada beberapa barang di dalamnya. Satu buah buku, satu buah pulpen, dan satu buah drawing pen. Satu buah lego berbentuk Edelweis, dan bros bertuliskan namamu. Dan hand cream , katamu supaya kupakai tiap kali hendak bertemu dengan orang-orang, supaya meninggalkan wangi saat berjabat tangan. Pemberian semacam itu tentu akan selalu kuingat. Entah sampai kapan kita akan terus akrab seperti sejauh ini, atau sependek ini, sampai hari ini. Foto-fotomu yang tentu cantik, kini memenuhi galeri ponselku. Barangkali tak pernah k...

Dari mana datangnya gerd

Dua hari sudah Sudah dua hari kau tak kunjung pergi Sebab tak kunjung ketemu di kalibrasi Hingga habis berapa gram biji kopi Dan beberapa shoot Entah double atau single Barangkali gerd menjadi kawan yang akrab Tentu saja. Saban hari Sebab tuntutan kiranya Ah, gerd Jikalau kau jadi hal lain Boleh jadi kau adalah rindu Yang amat menyiksa Namun selalu kuulangi. 25/3/24

Kalut

Ia bergegas pulang dengan motor kantor setelah makan malam dengan rekan-rekan. Bergegas menuju rumah dengan sesegera, tanpa mampir nongkrong atau keliling kota lebih dulu. Sebab tubuhnya lelah, atau boleh jadi jiwanya. Di sepanjang perjalanan menuju pulang, tak terasa ia meneteskan air mata, dan menyeka dengan sesegera pula. Pikirannya kacau sebab banyak hal, tuntutan atasan, tuntutan ekonomi, tentang masa depan yang masih misteri, tentang mimpi dan harapan, yang tak jarang patah atau dipatahkan oleh keadaan. Dan cinta, apalagi. Dan dengan sadar ia teringat kalimat yang diucapkan seorang kawan, bahwasanya semua ini hanya perihal dunia. Ealah, mung ndunyo . Dan beruntung, celetukan kawan yang tertinggal dalam ingatan mampu membantu melegakan beratnya pikiran dan mbededege ati. Sesampai di rumah, ia langsung tergeletak di ruang tamu, membalas pesan kawan-kawannya dengan terbata-bata, dengan jari yang gemetar, atau dengan mulut yang komat-kamit. Tanpa sempat melepas jaket, seragam. Tak se...

Berangkat

Pukul 09.00 tepat, mataku terbelalak musabab berisik suara speaker tetangga sebelah yang tak tahu diri tiap kali memutar lagu. Daripada menggerutu tanpa ujung atau menegurnya, yang membikin suasana makin kalut, kuputuskan saja segera mandi dan bersiap berangkat kerja. Sepatu Vans buluk, celana bahan Uniqlo, dan seragam dengan logo perusahaan di dada siap kupakai. Tak lupa pula menyemprot parfum yang sudah tiga bulan belum habis-habis. Dan bergegaslah dengan motor berisik macam katamu. Sepanjang jalan Ir. Soekarno padat kendaraan. Truk-truk berukuran besar berjalan pelan-pelan yang justru membikin macet. Memasuki jalan Patimura, ia tetap lengang macam hari-hari biasanya, walau sesekali umpatan khas nan wagu keluar dari mulut jika ada yang melawan arus seenaknya saja. Berhenti sekali saja di lampu merah Serengan. Baru lampu kuning, klakson-klakson sudah pada bersahutan, yang mungkin sudah menjadi hal lumrah dan dimaklumi oleh orang-orang. Sepeda motor berjalan perlahan-lahan, agak terbur...

Dari Thiago hingga Margareta, dan salam perpisahan

Sejauh yang kuingat, kala itu aku masih duduk di bangku SMP, aku menyaksikan pertandingan sepak bola di layar televisi. Kala itu kesebelasan Manchester United menghadapi Barcelona. Aku tidak ingat skor akhirnya berapa-berapa. Namun ada satu hal yang kuingat betul-betul yang membuatku takjub, adalah pemain nomor punggung 11 dari Barcelona, ia adalah Thiago Alcantara. Pemain yang kala itu masih muda, yang berposisi gelandang itu memamerkan skilnya. Dalam hatiku mengucap; kenapa tidak bermain untuk Liverpool FC, yang notabene klub yang kusukai. Beberapa tahun berselang, pemain berbangsa Spanyol itu makin matang permainannya. Ia diboyong Bayern Munchen sepaket dengan Pep Guardiola sebagai pelatih. Sesekali aku menonton saat Bayern Munchen bertanding, sebab Thiago. Beberapa kali aku membeli poster bergambar Thiago, dan kutempelkan di tembok kamarku, bersanding dengan poster Steven Gerrard dan skuad Liverpool. Bahkan saking mengidolakannya, terbersit keinginan di kepalaku, kelak jika aku pun...