Celengan rindu, dan doa kita saban hari
Sore sedang cerah-cerahnya di kota Solo. Perjalanan ke arah barat tentu terasa agak terik, sebab mentari belum juga pulang, ia baru perjalanan menuju pulang. Silau, tentu saja. Beruntung ada kacamata hitam di dashboard , yang bisa kuambil dan kupakai. Dagumu bersandar di pundakku macam biasanya, tiap kali kuboncengkan kau selalu begitu, tak pernah berubah, dan kuharap jangan berubah. Melulu lah seperti itu. Dan jangan bosan. “Kamu tahu lagunya Fiersa Besari ?” Tanyamu tiba-tiba dari jok belakang. “Lagunya yang mana ? Judulnya ?” Tanyaku balik. “Yang liriknya begini; aku kesal dengan jarak” “Yang sering memisahkan kita, hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di WhatsApp”. “Celengan rindu” ucapku sambil melanjutkan sepenggal lirik tadi. “Nah iya itu. Celengan rindu, ya”. Kita terus-terusan saling melanjutkan lirik demi lirik lagu tersebut. Dan kuraih tanganmu saat sampai di lirik ingin kuberdiri di sebelahmu, menggenggam erat jari-jarimu. Sambil kupandangi wajahmu dari spion seb...